Masyarakat Aceh akan memperingati 21 tahun perdamaian pada 15 Agustus besok. Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar mengajak warga menjaga damai dan tidak mudah terprovokasi.
"Menjelang peringatan Hari Damai Aceh tahun ini, saya mengimbau seluruh masyarakat untuk terus menjaga perdamaian, ketenteraman, persaudaraan, dan persatuan di seluruh pelosok Aceh. Jadikan peringatan 15 Agustus sebagai momentum refleksi, rasa syukur, dan komitmen bersama untuk memperkuat harmoni sosial serta mempercepat pembangunan yang adil, inklusif, dan bermartabat," kata Malik dalam keterangannya, Jumat (14/8/2026).Malik mengatakan, peringatan tersebut merupakan penanda sejarah yang sangat penting bagi Aceh yaitu ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) di Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005 antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kesepakatan disebut lahir dari kebesaran jiwa, keberanian, dan kebijaksanaan para pemimpin kedua belah pihak yang memilih jalan dialog dan perdamaian sebagai fondasi masa depan Aceh.
MoU Helsinki disebut bukan sekadar mengakhiri konflik yang berkepanjangan, tetapi juga membuka ruang bagi rekonsiliasi, pembangunan, demokrasi, serta lahirnya tatanan kehidupan yang lebih damai dan bermartabat bagi seluruh rakyat Aceh.
Menurutnya, dialog dan perdamaian diwujudkan melalui penandatanganan MoU Helsinki menjadi titik balik yang membuka jalan bagi lahirnya kepercayaan dan perhatian masyarakat internasional terhadap Tanah Rencong. Kepercayaan tersebut kemudian mendorong hadirnya dukungan dan bantuan kemanusiaan dari berbagai negara serta lembaga internasional untuk membantu rakyat Aceh memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi, sekaligus membangun kembali infrastruktur yang hancur akibat bencana tsunami.
"Dukungan internasional yang begitu besar pada masa itu menjadi bukti bahwa perdamaian menghadirkan harapan, membuka peluang kerja sama, serta memperkuat posisi Aceh dalam pergaulan nasional dan internasional," jelasnya.
Selama 21 tahun perjalanan perdamaian, kata Malik, Aceh telah mengalami banyak perubahan. Mantan Perdana Menteri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu menyebut perubahan itu di antaranya pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, penguatan tata kelola pemerintahan, serta semakin luasnya hubungan kerja sama dengan berbagai pihak di tingkat nasional maupun internasional merupakan buah dari suasana damai yang telah dijaga bersama.
"Atas nama Lembaga Wali Nanggroe Aceh, saya menyampaikan penghormatan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menjaga perdamaian selama ini para tokoh perdamaian, ulama, akademisi, mantan kombatan, aparat keamanan, pemerintah, organisasi masyarakat, pemuda, perempuan, serta seluruh rakyat Aceh. Perdamaian adalah warisan bersama yang harus terus dirawat sebagai amanah lintas generasi," ujarnya.
"Saya juga mengajak seluruh masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh pihak atau unsur mana pun yang berpotensi mengganggu stabilitas, menebarkan kebencian, memecah belah persaudaraan, atau mengusik perdamaian Aceh yang selama ini telah terpelihara dengan sangat baik," lanjut Malik.
Sumber : Detik.com
.jpeg)


