[PAGAR ALAM] Sumatra Selatan Perisyowa 24. Id – Pemandangan hijau nan subur yang biasanya menghiasi hamparan persawahan di belakang RSUD Besemah kini sirna. Sejak Januari 2026, ratusan hektar lahan tani di Kelurahan Alundua tersebut berubah menjadi hamparan tanah retak dan gersang. Hal ini menyusul robohnya bendungan irigasi utama yang terletak tepat di bawah Jeramba (Jembatan) Beringin. Kamis (09. 04. 2026)
Berdasarkan pantauan visual, struktur bendungan tampak amrol dan tersumbat tumpukan material sampah serta sisa bangunan. Kondisi ini memutus total distribusi air yang menjadi urat nadi kehidupan bagi para petani di kawasan strategis tersebut.
Empat Bulan Tanpa Kepastian
Ironisnya, meski krisis pengairan ini sudah memasuki bulan keempat, belum ada tanda-tanda perbaikan dari instansi terkait. Lumpuhnya irigasi Jeramba Beringin membuat para petani di belakang RSUD Besemah hanya bisa gigit jari. Musim tanam yang seharusnya sudah dimulai terpaksa tertunda tanpa batas waktu yang jelas.
"Dulu air lancar, sekarang kering kerontang. Kami mau menanam padi tidak bisa karena air tertahan di bawah jembatan (Jeramba Beringin) yang roboh itu. Kalau dibiarkan terus, sawah kami bisa mati permanen," ujar salah seorang warga yang ditemui di lokasi.
Menanti "Tangan Dingin" Pemkot Pagar Alam
Keringnya persawahan di belakang RSUD Besemah bukan hanya masalah petani, melainkan ancaman bagi ketahanan pangan Kota Pagar Alam. Publik mempertanyakan pengawasan infrastruktur oleh Dinas PUPR dan Dinas Pertanian yang dinilai lambat merespons bencana infrastruktur ini.
Warga mendesak pemerintah untuk segera:
- Normalisasi Jalur Air: Melakukan pengerukan sampah dan sisa reruntuhan beton di bawah Jeramba Beringin.
- Penyediaan Air Darurat: Mencari solusi teknis agar air bisa kembali mengalir ke area persawahan belakang RSUD Besemah selagi menunggu perbaikan permanen.
"Jika pengairan di jantung kota saja bisa terbengkalai selama empat bulan, bagaimana dengan nasib petani di pelosok?"
Pewarta : Bk Red
.png)

