J
AKARTA Peristiwa24. Id – Amarah yang terpendam sekian lama akhirnya pecah. Sebanyak 15.000 massa yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Empat Lawang (KREL) dan Koalisi Nasional Reforma Agraria (KNARA) dipastikan akan bergerak bak gelombang pasang menuju Istana Negara pada 15 Februari 2026. Mereka membawa satu tuntutan mutlak: Cabut IUP PT ELAP/KKST sekarang juga.
Bukan sekadar aksi biasa, ini adalah perjalanan spiritual dan fisik bagi para pencari keadilan. Dimulai dari Pekanbaru, massa melakukan estafet perjuangan menembus lintas Sumatra:
5 Februari: Titik kumpul di Kantor Gubernur Jambi.
7 Februari: Penggabungan kekuatan di Palembang, Sumatra Selatan.
9 Februari: Setelah menggetarkan Lampung, ribuan kaki akan menyeberangi Selat Sunda dan melakukan long march dari Merak menuju jantung ibu kota.
Edi Susilo, Koordinator KNARA Sumsel, menegaskan bahwa 5.000 massa dari wilayahnya telah siap "pasang badan". Mereka tidak hanya menuntut pencabutan izin PT Empat Lawang Agro Perkasa dan PT Karya Kencana Sentosa Tiga (ELAP/KKST), tetapi juga membawa misi suci: Membebaskan Andika.
"Kami berjuang demi kebebasan Ketua Koperasi Plasma kami yang dikriminalisasi. Ini bukan sekadar sengketa lahan, ini adalah soal martabat rakyat yang diinjak-injak!" tegas Edi dengan nada bergetar.
Pelanggaran Konstitusi di Balik Kelapa Sawit
Dugaan skandal besar menyelimuti PT ELAP/KKST. Perusahaan sawit raksasa ini dituding beroperasi "liar" tanpa Hak Guna Usaha (HGU). Hal ini dianggap sebagai pembangkangan nyata terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 138/PUU-XIII/2015.
Secara hukum, perusahaan tidak lagi bisa berlindung hanya di balik IUP (Izin Usaha Perkebunan). Berdasarkan ketetapan MK, HGU adalah harga mati. Beroperasinya perusahaan tanpa HGU adalah penghinaan terhadap kedaulatan hukum Indonesia.
Meski situasi kian memanas, Deputi Advokasi DPN KNARA, Muhammad Ridwan, mewanti-wanti agar seluruh massa tetap dalam satu komando.
"Jaga diri, jangan terprovokasi. Kita datang untuk mengetuk nurani Presiden, bukan untuk menciptakan kerusuhan. Tapi ingat, kami tidak akan pulang sebelum keadilan menang," pungkasnya.
Jakarta akan menjadi saksi pada 15 Februari mendatang: Apakah suara rakyat akan didengar, ataukah derap langkah 15 ribu orang ini hanya akan menjadi angin lalu di depan pagar besi Istana?
Pewarta : Bk red
.png)

